Breaking News

TEORI MATEMATIS KOMUNIKASI / TEORI INFORMASI

MENJELASKAN

Salah satu model awal komunikasi dikemukakan Claude Shannon dan Warren Weaver pada 1949 dalam buku The Mathematical Theory of Communication. Model yang sering disebut model matematis atau model teori informasi itu mungkin adalah model yang pengaruhnya paling kuat atas model dan teori komunikasi lainnya.[1]

Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi.[2]

Karya Shannon dan Weaver ini kemudian banyak berkembang setelah Perang Dunia II di Bell Telephone Laboratories di Amerika Serikat mengingat Shannon sendiri adalah insiyiur di sana yang berkepentingan atas penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Kemudian Weaver mengembangkan konsep Shannon ini untuk diterapkan pada semua bentuk komunikasi. Titik kajian utamanya adalah bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio.

Latar belakang keahlian teknik dan matematik Shannon dan Weaver ini tampak dalam penekanan mereka. Misalnya, dalam suatu sistem telepon, faktor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan-seperti pada mazhab semiotika, tetapi lebih pada berapa jumlah sinyal yang diterima dam proses transmisi.

MERAMALKAN

Shannon dan Weaver membuat model komunikasi yang dilihat sebagai proses linear yang sangat sederhana. Karakteristik kesederhanaanya ini menonjol dengan jelas. Mereka menyoroti masalah-masalah komunikasi (penyampaian pesan) berdasarkan tingkat kecermatannya.[3]

Teori matematis ini didasarkan pada konsep statistik transmisi sinyal, yang pertama kali diajukan oleh Weaver. Setelah itu, mereka memberi sumbangan yang sangat penting dan berpengaruh bagi perkembangan model-model lain dan teori-teori dalam komunikasi. Pada bagian kedua teori matematis komunikasi, Warren Weaver menyajikan sebuah diagram skematik komunikasi (Gambar 1), yang membuahkan banyak model lain dalam proses komunikasi.[4]


Gambar 1 Diagram Skematik Sistem Komunikasi Umum dari Shannon.[5]

Model itu melukiskan suatu yang menyandi atau menciptakan pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran kepada seorang penerima yang menyandi balik atau menciptakan ulang pesan tersebut. Dengan kata lain model Shannon dan Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk dikomunikasikan dari separangkat pesan yang dimungkinkan. Pesan itu bisa dalam bentuk kata lisan atau tulisan, musik, gambar, dan lain sebagainya. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi suatu sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran (Channel) adalah medium yang mengirimkan sinyal (tanda) dari transmitter ke penerima (receiver). Dalam percakapan, sumber informasi adalah otak, transmitter-nya adalah mekanisme suara yang menghasilkan sinyal (kata-kata yang terucap), yang ditransmisikan lewat udara (sebagai saluran). Penerima (receiver), yakni mekanisme pendengaran, melakukan operasi yang sebaliknya yang dilakukan transmiter dengan merekonstruksi pesan dari sinyal. Sasaran (distination) adalah (otak) orang menjadi tujuan pesan itu.[6]

Konsep lain yang merupakan yang merupakan andil Shannon dan Weaver adalah entropi (entropy) dan redundansi (redundancy) serta keseimbangan yang diperulukan di antara keduanya untuk menghasilkan komunikasi yang efisien dan pada saat yang sama mengatasi ganguan dalam saluran. Secara ringkas, semakin banyak ganguan, semakin besar kebutuhan akan redundansi, yang mengurangi entropi relatif pesan. Dengan menggunakan redundansi untuk mengatasi ganguan dalam saluran, jumlah informasi yang dapat ditransmisikan teredukasi pada suatu saat tertentu.[7]

Entropi adalah konsep keacakan, di mana terdapat suatu keadaan yang tidak dapat dipastikan kemungkinannya. Entropi timbul jika prediktabilitas / kemungkinan rendah (low predictable) dan informasi yang ada tinggi (high information). Sebagai contoh ada pada penderita penyakit Aids. Pengidap Aids atau yang lebih sering disebut OHIDA tidak dapat dipastikan usianya atau kapan ia akan dijemput maut. Ada yang sampai delapan tahun, sepuluh tahun, bahkan sampai dua puluh tahun, masih bisa menjalani hidup sebagaimana orang yang sehat.

Hal ini dikarenakan ajal atau kematian adalah sebuah sistem organisasi yang kemungkinannya sangat tidak dapat dipastikan. Dengan kata lain, semakin besar entropi, semakin kecil kemungkinan-kemungkinannya (prediktabilitas). Informasi adalah sebuah ukuran ketidak pastian, atau entropi, dalam sebuah situasi. Semakin besar ketidakpastian, semakin besar informasi yang tersedia dalam proses komunikasi. Ketika sebuah situasi atau keadaan secara lengkap dapat dipastikan kemungkinannya atau dapat diprediksikan-highly predictable, maka informasi tidak ada sama sekali. Kondisi inilah yang disebut dengan negentropy.

Redundansi Konsep kedua yang merupakan kebalikan dari entropi adalah redundansi. Redudansi adalah sesuatu yang bisa diramalkan atau diprediksikan (predictable). Karena prediktabilitasnya tinggi (high predictable), maka informasi pun rendah (low information). Fungsi dari redundan dalam komunikasi menurut Shannon dan Weaver ada dua, yaitu yang berkaitan dengan masalah teknis dan yang berkaitan dengan perluasan konsep redundan itu sendiri ke dalam dimensi sosial.

Fungsi redundansi apabila dikaitkan dengan masalah teknis, ia dapat membantu untuk mengatasi masalah komunikasi praktis. Masalah ini berhubungan dengan akurasi dan kesalahan, dengan saluran dan gangguan, dengan sifat pesan, atau dengan khalayak.

Kekurangan-kekurangan dari saluran (channel) yang mengalami gangguan (noisy channel) juga dapat diatasi oleh bantuan redundansi. Misalnya ketika kita berkomunikasi melalui pesawat telepon dan mengalami gangguan, mungkin sinyal yang lemah, maka kita akan mengeja huruf dengan ejaan yang telah banyak diketahui umum, seperti charlie untuk C, alpa untuk huruf A, dan seterusnya. Contoh lain, apabila kita ingin mengiklankan produk kita kepada masyarakat konsumen baik melalui media cetak (koran, majalah, atau tabloid) ataupun elektronik (radio dan televisi), maka redundansi berperan pada penciptaan pesan (iklan) yang dapat menarik perhatian, sangat simpel, sederhana, berulang-ulang dan mudah untuk diprediksikan (predictable).

Selain masalah gangguan, redundansi juga membantu mengatasi masalah dalam pentransmisian pesan entropik dalam proses komunikasi. Pesan yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan, lebih baik disampaikan lebih dari satu kali, dengan berbagai cara yang sekreatif mungkin.

Fungsi kreatif redundansi ini juga bila dikaitkan dengan khalayak, akan sangat membantu sekali pada masalah jumlah dan gangguan pesan di dalamnya. Jika pesan yang ingin disampaikan tertuju pada khalayak yang besar dan heterogen, maka pesan tersebut harus memiliki tingkat redundansi yang tinggi, sehingga pesan yang disampaikan akan berhasil dan mudah dicerna. Sebaliknya, jika khalayak berada pada jumlah yang kecil, spesialis, dan homogen, maka pesan yang akan disampaikan akan lebih entropik.

Contoh dari fungsi redundansi di atas misalnya pada pemaknaan seni populer (popular art) yang lebih redundan dari pada seni bercita rasa tinggi (highbrow art). Hal ini dikarenakan seni populer lebih mudah untuk dicerna dan dipahami oleh banyak khalayak dari pada seni bercita rasa tinggi di mana khalayak yang mengerti hanya beberapa golongan elit saja.
Selain masalah di atas, konsep redundansi juga bisa diperluas hubungannya dengan konvensi dan hubungan realitas sosial masyarakat.

Konvensi adalah menyusun suatu pesan dengan pola-pola yang sama. Pengertian sederhananya dapat dipahami sebagai bentuk baku yang telah umum diterima sebagai pedoman. Sebagai contoh, dalam karya sastra lama ada yang disebut dengan pantun. Pantun merupakan salah satu bentuk karya sastra lama (klasik) yang memiliki karakteristik tersendiri. Cirinya antara lain berpola AB AB, artinya bunyi huruf terakhir dari dua baris terakhir pasti sama dengan bunyi dua huruf terakhir dua baris pertama.


Contoh:

Jalan-jalan ke sawah Lunto
Keliling jalan Batu Sangkar
Tegaklah tikus berpidato
Kucing mendengar habis bertengkar

Pada contoh pantun di atas, kita setidaknya dapat meramalkan bahwa baris ketiga dan keempat pasti memiliki bunyi yang sama dengan baris pertama dan kedua, walaupun kita belum mengetahui isi dan maknanya. Hal ini dikarenakan pantun menekankan pengulangan dan pola-pola yang bisa diramalkan. Sehingga ini bisa meningkatkan redundansi dan menurunkan entropi.

Ketika berbicara masalah entropi dan redundansi pada masalah karya seni , kita mengetahui bahwa karya seni bukan merupakan hal yang statis dan kaku. Ia akan terus berubah dan bersifat dinamis seiring perkembangan nilai dan corak hidup masyarakat. Karya seni ada kalanya akan bersifat ‘nakal’ atau ‘nyeleneh’ dan melanggar konvensi-konvensi yang ada, sehingga menjadi entropik bagi khalayak yang ada di dekatnya. Namun, ia juga akan berusaha mengikis imej itu secara perlahan dengan membangun sendiri konvensi-konvensi baru yang awalnya hanya ada pada khalayak yang jumlahnya terbatas. Maka dengan sendirinya karya seni tadi akan diterima dan dipelajari secara luas, sehingga dapat meningkatkan redundansinya. Sebagai contoh, seni lukis tubuh (body paint) yang dahulu dianggap tabu sekarang dianggap sebagai hal yang biasa dan mempunyai nilai seni.[8]

Teori informasi yang dikemukakan Shannon dan Weaver ini banyak menuai kritik. Salah satunya adalah ia tidak menjelaskan konsep umpan balik (feedback) dalam model teorinya.

PANDANGAN

Dilihat dari sudut efektifitasnya teori Teori Matematis Komunikasi, dapat dikelompokkan pada 3 bagian, yaitu:
  • MASA LALU
Claude Shannon mengembangkan teori matematis pengiriman sinyal ketika dia menjadi ahli matematika riset di Bell Telephone Laboratories dan seorang guru besar sains di MIT. Akibat langsung dari teori informasi Shannon ini adalah teknologi informasi digital.

Teori Matematis Komunikasi pertama kali di menitik beratkan kajian utamanya bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio.
  • MASA SEKARAN
Di tahun 1980 teknologi inoformasi menjadi hal biasa, ini merupakan hasil dari teori matematis yang dikembangkan Shannon. Masa sekarang ini teori matematik Shannon dan Weaver banyak digunakan dalam media massa salah satunya aplikasinya untuk mengukur kompleksitas acara televisi yang dikaitkan dengan minat pemirsa. 
  • MASA DEPAN
Seiring dengan semakin pesatnya pertumbuhan teknologi informasi dan kemampuan manusia, Kedepannya Model Shannon dan weaver lebih manarik lagi untuk dikaji, teori ini juga dapat diterapkan kepada konsteks- konsteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komuikasi publik atau komunikasi massa.

STRATEGI
  • KEGUNAAN
Seorang peneliti (Ritchei, 1986) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa teorema Shannon bisa digunakan untuk membangun teori dalam riset komunikasi dengan tiga cara, yaitu:
Teori bisa diaplikasikan jika problema bisa dikurangi menjadi subproblem yang sesuai dengan asumsi teorinya.
 Di mana problem kita menyerupai problem transmisi Shannon tetapi tidak cocok dengan asumsinya, kita bisa mengembangkan teori yang paralel dengan teori Shannon jika kita bisa membentuk asumsi baru dengan kata kita sendiri.
Kita bisa menggunakan asumsi Shannon itu sendiri dan mengembangkan riset didasarkan pada hipotesis yang diajukan oleh asumsi-asumsi Shannon.[9]
  • KEPUTUSAN
Formula matematis dari teori informasi didasarkan pada probabilitas (kemungkinan), dari sudut pandang teori informasi, kimunikasi terjadi “ketika dua sistem yang sesuai, yang digabungkan melalaui satu atau lebih sistem yang tidak beruhubugan, mempunyai keadaan yang serupa sebagai akibat dari transfer sinyal melalui sebuah rantai.[10]

Membangun dan mempertahankan Jaringan komunikasi dalam sebuah kelempok itu membuat komunikasi berfungsi dengan baik. 

Teori informasi diaplikasikan untuk mengukur kompleksitas acara televisi yang dikaitkan dengan minat pemirsa. Salah satu temuannya adalah bahwa kompleksita yang statis mempunyai dampak negatif pada perhatian visual tetapi kompleksitas yang dinamis berhubungan seara positif dengan perhatian.

KESIMPULAN

Model Shannon dan Weaver yang disebut teori matematis komunikasi / teori informasi, ini merupakan teori yang sangat sederhana dan bisa menggambarkan komunikasi secara umum. Teori ini bersifat linear atau satu-arah. Ia juga tidak memiliki konsep umpan balik.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyana. Deddy, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
W. Tankard, Jr. Werner J. Severin-James, Teori Komunikasi, Sejarah Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Edisi Kelima, Jakarta, Kecana, 2008.
http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/03/teori-teori-komunikasi.html

[1] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), h. 137.
[2] http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/03/teori-teori-komunikasi.html, Rabu 09 Juni 2011.
[3] Deddy, Ilmu Komunikasi, h. 138.
[4] Werner J. Severin-James W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi, Sejarah Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Edisi Kelima, (Jakarta, Kecana, 2008), h. 56.
[5]Werner, Teori Komunikasi, h. 57.
[6] Deddy, Ilmu Komunikasi, h. 139.
[7] Ibid, h. 139.
[8] http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/04/teori-komunikasi-klasik-teori-informasi.html, Rabu 8 Juni 2011.
[9] Werner, Teori Komunikasi, h. 65.
[10] Ibi, h. 63