Wednesday, February 15, 2012

TEORI MEDIA KRITIS (MEDIA CRITICAL THEORY)


A.     MENJELASAN
Teori media kritis berasal dari aliran ilmu-ilmu kritis yang bersumber pada ilmu sosial Marxis. Beberapa tokoh yang mempeloporinya antara lain Karl Mark, Engels (pemikiran klasik), George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas, Altrusser, Johan Galtung, Cardoso, Dos Santos, Paul Baran Samir Amin, Hamza Alavi (pemikiran modern). Ilmu ini juga disebut dengan emancipatory science (cabang ilmu sosial yang berjuang untuk mendobrak status quo dan membebaskan manusia, khususnya rakyat miskin dan kecil dari status quo dan struktur sistem yang menindas).
Teori kritis berangkat dari cara melihat realitas dengan mengasumsikan bahwa selalu saja ada struktur sosial yang tidak adil. Bila berbicara ketidak adilan maka dalam perjalanan sejarah kita menemukan banyak tokoh pejuang ketidak adilan, Musa diturunkan Tuhan untuk memperjuangkan ketidakadilan rezim pemerintahan Firaun terhadap rakyatnya. Muhammad dilahirkan untuk memperjuangkan ketidakadilan pada bangsa Arab dan bagi seluruh umat manusia. Dan masih banyak tokoh pejuang ketidakadilan yang hadir dimuka bumi ini untuk membebaskan masyarakatnya dari ketertin dasan. Tokoh-tokoh tersebut hadir sebagai penyeimbang kekuatan kezaliman yang ada pada waktu itu.[1]
Berkaitan dengan itu, saat kita bergerak memasuki abad ke-21, kita melihat kian mendesaknya visi baru yang menentang asumsi-asumsi berbagai teori yang mencoba mejelaskan lingkungan sosial dan budaya kita. Kita memasuki lingkungan budaya baru yang secara dramatis ditransformasikan oleh teknologi komunikasi dan media gelobal, sehinga kita memerlukan kajian komunikasi dan kebudayaan untuk menganalisis ekonomi politik industri komunikasi dan budaya global. Didalam struktur baru ini,bentuk-bentuk teknologi komunikasi yang baru telaah menciptaka suatu bentuk interalasidan integrasi global yang tidak perna terbayangkan sebelumnya oleh sejarah dunia.
Teori kritis melihat bahwa media tidak lepas kepentingan, terutama sarat kepentingan kaum pemilik modal, negara atau kelompok yang menindas lainnya. Dalam artian ini, media menjadi alat dominasi dan hegemoni masyarakat. Konsekuensi logisnya adalah realitas yang dihasilkan oleh media bersifat pada dirinya bias atau terdistorsi.
Selanjutnya, teori kritis melihat bahwa media adalah pembentuk kesadaran. Representasi yang dilakukan oleh media dalam sebuah struktur masyarakat lebih dipahami sebagai media yang mampu memberikan konteks pengaruh kesadaran (manufactured consent). Dengan demikian, media menyediakan pengaruh untuk mereproduksi dan mendefinisikan status atau memapankan keabsahan struktur tertentu. Inilah sebabnya, media dalam kapasitasnya sebagai agen sosial sering mengandaikan juga praksis sosial dan politik.
Media massa merupakan produk yg dipengaruhi oleh politik, ekonomi, kebudayaan, dan sejarah. Jadi fokus kajiannya adalah fungsi-fungsi apa yg harus dilakukan oleh media massa di dalam masyarakat.
Pendefinisian dan reproduksi realitas yang dihasilkan oleh media massa tidak hanya dilihat sebagai akumulasi fakta atau realitas itu sendiri. Reproduksi realitas melalui media merupakan representasi tarik ulur ideologi atau sistem nilai yang mempunyai kepentingan yang berbeda satu sama lain. Dalam hal ini, media tidak hanya memainkan perannya hanya sekedar instrumen pasif yang tidak dinamis dalam proses rekonstruksi budaya tapi media massa tetap menjadi realitas sosial yang dinamis.
Teori kritis mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaimana seseorang ditindas sehingga orang dapat mengambil tindakan untuk merubah kekuatan penindas.
B.    MERAMALKAN
Teori kritis memungkinkan kita membaca produksi budaya dan komunikasi dalam perspektif yang luas dan beragam. Ia bertujuan untuk melakukan eksplorasi refleksif terhadap pengalaman yang kita alami dan cara kita mendefinisikan diri sendiri, budaya kita, dan dunia. Saat ini teori kritis menjadi salah satu alat epistemologis yang dibutuhkan dalam studi humaniora. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa makna bukanlah sesuatu yang alamiah dan langsung. Bahasa bukanlah media transparan yang dapat menyampaikan ide-ide tanpa distorsi, sebaliknya ia adalah seperangkat kesepakatan yang berpengaruh dan menentukan jenis-jenis ide dan pengalaman manusia.
Dengan berusaha memahami proses dimana teks, objek, dan manusia diasosiasikan dengan makna-makna tertentu, teori kritis memertanyakan legitimasi anggapan umum tentang pengalaman, pengetahuan, dan kebenaran. Dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain dan alam, dalam kepala seseorang selalu menyimpan seperangkat kepercayaan dan asumsi yang terbentuk dari pengalaman—dalam arti luas—dan berpengaruh pada cara pandang seseorang, yang sering tidak tampak. Teori kritis berusaha mengungkap dan memertanyakan asumsi dan praduga itu. Dalam usahanya, teori kritis menggunakan ide-ide dari bidang lain untuk memahami pola-pola dimana teks dan cara baca berinteraksi dengan dunia. Hal ini mendorong munculnya model pembacaan baru. Karenanya, salah satu ciri khas teori kritis adalah pembacaan kritis dari dari berbagai segi dan luas. Teori kritis adalah perangkat nalar yang, jika diposisikan dengan tepat dalam sejarah, mampu merubah dunia.
Dengan kata lain, teori-teori kritis berusaha melakukan eksplanasi, namun eksplanasi dalam pengertian lain, yakni ekplanasi tentang adanya kondisi-kondisi yang dinilai palsu, semu, atau tidak benar (seperti “false class consciousness”). Tujuannya tak lain untuk pencerahan, emansipasi manusia, agar para pelaku sosial menyadari adanya pemaksaan tersembunyi, atau hegemoni.
Teori kritis secara terbuka menekankan perlunya evaluasi dan kritik terhadap status quo. Teroi kritis membangun pertanyaan dan menyediakan alternatif jalan untuk menginterpretasikan hukum sosial media massa.[2]
C.    PANDANGAN
1.    MASA LALU
Teori kritis dimulain dengan karya-karya Max Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse, dan banyak kolega mereka pada Frankrurt Institute for Social Research dalam tahun 1923. Kelompok ini semula dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Marxis, meskipun mereka tidak pernah menjadi anggota paratai mana pun, dan karya mereka semata-mata ilmiah. Dengan bangkitnya National Socialism (Nazi) di jerman dalam tahun 30-an,  Hampir semua anggota kelompok Frankrurt ini bermigrasi ke Amerika Serikat dan di sana mereka menaruh perhatian besar pada komunikasi massa dan media sebagai struktur penindasan dalam masyarakat kapitalistik, khususnya struktur di Amerika Serikat.
2.    MASA SEKARANG
Dewasa ini teori kritis semakin berkembang, meskipun menjadi semakin menyebar dan semakin metateroritik. Tidak ada pada semua teori kritis adalah Maxis, meskipun Marx memberikan pengaruh pada aliran pemikiran ini.[3]
Saat ini teori kritis digunakan untuk menjaga stabilitas informasi dari media, sehingga media tidak memihak dan netral dalam memberikan informasi sehingga tidak ada yang terkucilkan. Teori media kritis juga merupakan alternatif baru dalam usaha memahami seluk beluk media dan bagaiman media itu harus selalu bersikap untuk tidak mengukuhkan status quo.
3.    MASA DEPAN
Dengan semakin pesatnya kemajuan yang dialami manusia maka modernitas manusia sudah tidak terelakkan lagi. Modernitas membawa manusia pada kemajuan teknologi yang semakin pesat, Teknologi modern sudah menjadi alat perpanjangan tangan manusia. Manusia semakin dipermudah oleh sarana-sarana teknologi yang ada.  komunikasi dan teknologi tidak bisa dipisahkan dengan aspek-aspek negatif yang dihasilkannya. Sehinga kedepannya teori kritis meda sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas negara, dan memperjuangkan kelompok-kelompok tertindas.
 STRATEGI
1.    KEGUNAAN
Teori kritis mengangap tugas mereka adalah mengungkap kekuatan-kekuatan penindasan dalam masyarakat melalui analisis dialektika. Masyarakat biasanya merasakan semacam tatanan yang muncul di permukaan, dan pekerjaan teori kritis adalah untuk menunjukkan dasar pemikiran dari kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan. Hanya dengan melihat dealektika dari kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan yang membentu suatu sistensis atau tatanan, maka orang dapat diberi kebebasan untuk mengubah tatanan yang ada. Jika tidak, maka mereka akan tetap terasing satu sama lain dan dari masyarakat secara keseluruhan.
Teori media kritis berhubungan dengan berbagai topik yang relevan, termasuk bahasa, struktur organisasi, hubungan interpersonal, dan media. Komunikasi itu sendiri menurut perspektif kritis merupakan suatu hasil dari tekanan (tension) antara kreativitas individu dalam memberi kerangka pada pesan dan kendala-kendala sosial terhadap kreativitas tersebut.
            Dalam hubungannya dengan penelitian komunikasi, aliran kritis memiliki beberapa karakteristik, antara lain:
1.    Aliran Kritis lebih menekankan pada unsur-unsur filosofis  komunikasi. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dikemukakan oleh kaum kritis adalah siapa yang mengontrol arus komunikasi? siapa yang diuntungkan oleh arus dan struktur komunikasi yang ada?, ideologi apa yang ada dibalik media?.
2.    Aliran Kritis melihat struktur sosial sebagai konteks yang sangat menentukan realitas, proses, dan dinamika komunikasi manusia. Bagi aliran ini, suatu penelitian komunikasi manusia, khususnya komunikasi massa yang mengabaikan struktur sosial sebagai variabel berpengaruh, dikatakan bahwa penelitian tersebut a-historis dan a-kritis.
3.    Aliran Kritis lebih memusatkan perhatiannya pada siapa yang mengendalikan komunikasi. Aliran ini beranggapan bahwa komunikasi hanya dimanfaatkan oleh kelas yang berkuasa, baik untuk mempertahankan kekuasaannya maupun untuk merepresif pihak-pihak yang menentangnya.
4.    Aliran Kritis sangat yakin dengan anggapan bahwa teori komunikasi manusia, khususnya teori-teori komunikasi massa, tidak mungkin akan dapat menjelaskan realitas secara utuh dan kritis apabila ia mengabaikan teori-teori tentang masyarakat. Oleh karena itu, teori komunikasi massa harus selalu berdampingan dengan teori-teori sosial (Akhmad Zaini Abar, 1999:54).[4]
2.    KEPUTUSAN 
Teori kritis memberikan perhatian yang sangat besar pada alat-alat komunikasi dalam masyarakat. Komunikasi merupakan suatu hasil dari tekanan (tension) antara kreativitas individu dalam memberikan kerangka pada pesan dan kedala-kendala sosial terhadap kreativitas tersebut. Hanya jika individu benar-benar bebas untuk megespresikan dirinya dengan kejelasan dan penalaran, maka pembebasan akan terjadi, dan kondisi tersebut tidak akan terwujud sampai munculnya suatu tatan masyarakat yang baru.[5]
Dengan menggunakan teori kritis terhadap media diharapkan arus informasi dan berita-berita yang di terbitkan lebih sehat dan tidak memihak kepada yang memiliki pengaruh.
D.    KESIMPULAN
Teori Media Kritis atau Media Critical Theory memiliki pengaruh besar dalam menjaga stabilitas informasi yang terjadi di media massa, teori ini memiliki pandangan dan ramalan yang jelas, sehingga Media Critical Theory layak untuk disebut sebagai Teori.


DAFTAR PUSTAKA
Nurdin, Komunikasi Massa, 2004, Yogyakrta, Pustaka Pelajar.
S. Djuarsa sendjaja, Teori komunikasi, 1994, Jakarta, universitas Terbuka.
pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files.../94022-14-874065773559.doc


[2] Nurdin, Komunikasi Massa, (2004, Yogyakrta, Pustaka Pelajar), h. 188.
[3] S. Djuarsa sendjaja, Teori komunikasi, (1994, Jakarta, universitas Terbuka), h. 393.

[4] pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files.../94022-14-874065773559.doc, Selasa, 14 Juni 2011.
[5] Djuarsa, Teori komunikasi, h. 393.

No comments:

Post a Comment